
Jogja — Sejumlah penghobi, petani hingga pelaku usaha tanaman hias jenis Algonema dari berbagai daerah di Indonesia, berkumpul untuk menggelar kegiatan pameran, sarasehan hingga kontes tanaman hias Algonema bertajuk Indonesia Algonema Contest #3 di Yogyakarta, pada Jumat-Minggu (10-12/12/2021).
Selain bertujuan sebagai ajang silaturahmi antar penghobi algonema dari berbagai komunitas, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan Algonema pada masyarakat luas, serta perumusan asosiasi pembudidaya algonema di Indonesia.
Dihadiri sejumlah penghobi, petani, perwakilan pemerintah, hingga tokoh algonema nasional seperti Grek Hambali, Siti Fadila Supari dll, kegiatan ini berlangsung meriah dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. Dalam rangkaian acara ini juga dilakukan lelang jenis algonema terbaru yakni Golden Hope.
Petani sekaligus penggerak komunitas Algonema asal Yogyakarta, R Agus Cholik mengatakan potensi budidaya tanaman hias Algonema di Indonesia saat ini sebenarnya masih sangat luar biasa besar. Bahkan selama pandemi ini, semakin banyak masyarakat yang melirik tanaman hias Algonema sebagai hobi baru mereka.
“Selain mengalami peningkatan harga hingga 3 kali lipat, jumlah permintaan algonema juga meningkat drastis selama pandemi. Bahkan seorang petani besar algonema bisa mendapatkan penghasilan Rp3-4 milyar sebulan. Sedangkan petani kecil bisa mendapatkan pendapatan Rp50 juta per bulan,” katanya
Sayangnya meski kebutuhan pasar algonema di Indonesia sangat tinggi, namun menurut Agus mayoritas kebutuhan itu sampai saat ini masih harus dipenuhi dengan cara impor dari luar negeri, seperti misalnya Thailand. Hal itu terjadi karena mayoritas petani Algonema di Indonesia masih sangat minim sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan yang ada.

Atas dasar itulah, Agus berharap melalui kegiatan semacam ini, akan semakin banyak petani di Indonesia yang mau menggeluti budidaya algonema. Sehingga ke depan, Indonesia tidak hanya menjadi pasar dan bergantung pada impor, namun bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan algonema.
“Saya berharap ke depan akan muncul petani-petani muda yang serius membudidayakan algonema. Termasuk menghasilkan jenis-jenis baru. Karena sampai sekarang di Indonesia ini hanya beberapa gelintir saja yang sudah mampu menghasilkan jenis algonema baru,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Holtikultura, Kementerian Pertanian RI, Bambang Sugiharto, mengaku akan serius membantu dan mendukung upaya pengembangan budidaya tanaman hias Algonema di Indonesia di masa saat ini dan yang akan datang. Hal tersebut diperlukan agar petani Indonesia bisa bersaing dengan petani dari negara lain.
“Mungkin selama ini perhatian pemerintah terhadap tanaman hias masih kurang. Namun saya pastikan, saat ini hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Ini tak lepas karena potensi Flory culture sangat besar. Bahkan nilai Ekspornya terus meningkat. Karena itulah Kementan tergugah untuk membangkan Flory Culture termasuk Algonema,” katanya.
Salah seorang penghobi algoritma, Siti Fadila Supari, mengakui begitu besarnya potensi pengembangan tanaman hias Algonema di Indonesia. Ia menilai jika serius dilakukan, pengembangan budidaya Algonema ini akan mampu meningkatkan perekonomian para petani maupun pecinta Algonema itu sendiri.
“Potensi Algonema di Indonesia ini luar biasa besar. Karena itu kita harus mampu bersama-sama membangkitkan Algonema di Indonesia agar bisa mengalahkan negara lain. Saya sebagai pecinta Algonema bersedia mengawal,” pungkasnya








