
SLEMAN – Di tengah derasnya arus modernisasi, tidak banyak komunitas yang masih konsisten melestarikan tradisi spiritual warisan Keraton Yogyakarta. Namun, selama delapan tahun terakhir, Majelis Dzikir Manaqib Bolo Jiwo terus berupaya menjaga sekaligus mengenalkan Tahlil Hadiningrat kepada masyarakat. Upaya tersebut menjadikan Masjid Sulthoni Wotgaleh di Kalurahan Sendangtirto, Berbah, Sleman, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga berkembang menjadi pusat wisata religi dan syiar Islam berbasis budaya yang mampu menarik jamaah dari berbagai daerah, bahkan Malaysia.
Komitmen itu tampak dalam peringatan Harlah ke-8 Majelis Dzikir Manaqib Bolo Jiwo yang berlangsung pada 17–18 Juli 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan bersama Sekretariat Kekeluargaan Sheikh Jumadil Kubra (SKJK) Malaysia sebagai wujud penguatan ukhuwah Islamiyah antara Indonesia dan Malaysia melalui pendekatan spiritual, budaya, dan kemanusiaan.
Sekitar 40 jamaah dari Malaysia yang dipimpin Syekh Sidi Ibrahim Al Malik hadir mengikuti rangkaian kegiatan bersama ratusan jamaah dari Daerah Istimewa Yogyakarta maupun luar daerah, seperti Prambanan, Kalasan, Gunungkidul, Kota Yogyakarta hingga Nganjuk, Jawa Timur.
Pengasuh Majelis Dzikir Manaqib Bolo Dari Masjid Wotgaleh, Bolo Jiwo Lestarikan Tahlil Hadiningrat dan Pererat Persaudaraan Indonesia–Malaysia SKJK Malaysia terjalin karena memiliki kesamaan pandangan dalam mengembangkan dakwah berbasis tradisi Islam Nusantara.
“Secara ideologi, amaliah, dan ajarannya memiliki banyak kesamaan dengan majelis kami. Karena itu, sahabat-sahabat dari Malaysia memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini,” ujarnya.

Melestarikan Amaliah Keraton
Di balik ramainya kegiatan keagamaan yang digelar, terdapat misi yang lebih besar, yakni melestarikan amalan Keraton Yogyakarta agar tetap dikenal masyarakat.
Anhar menjelaskan, sejak mendirikan Majelis Dzikir Manaqib Bolo Jiwo delapan tahun lalu, dirinya memiliki tekad untuk memperkenalkan amaliah Keraton yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.
“Kebetulan saya bagian dari abdi dalem Keraton. Saya ingin menyiarkan dan menyebarluaskan amaliah Keraton kepada masyarakat sehingga tradisi ini bisa diterima dan terus hidup,” katanya.
Salah satu amalan yang menjadi ciri khas majelis adalah Tahlil Hadiningrat. Menurut Anhar, secara umum susunan bacaan tahlil tidak berbeda dengan tahlil yang lazim diamalkan masyarakat. Perbedaannya terletak pada bagian tawasul yang merujuk pada sejarah Kerajaan Mataram Islam.
“Kalau bacaan tahlilnya sama seperti yang berkembang di masyarakat. Yang membedakan adalah tawasulnya. Dalam Tahlil Hadiningrat kami bertawasul kepada para tokoh Mataram Islam seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan para pendahulu yang berjasa dalam syiar Islam di tanah Jawa,” jelasnya.
Menurutnya, penyebutan nama para tokoh tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan dakwah Islam di Nusantara, bukan sebagai bentuk pengkultusan.
“Tahlil Hadiningrat menjadi salah satu cara kami melestarikan budaya dan sejarah Keraton yang juga merupakan bagian dari perjalanan Islam di Jawa,” tambahnya.

Masjid Wotgaleh Kian Ramai Dikunjungi Jamaah
Tidak hanya menjadi pusat pelestarian budaya, Masjid Sulthoni Wotgaleh kini juga berkembang sebagai salah satu tujuan wisata religi di Kabupaten Sleman.
Setiap malam Kamis, Majelis Dzikir Manaqib Bolo Jiwo menggelar pengajian secara bergilir dari satu kampung ke kampung lainnya selama satu bulan. Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan pengajian akbar di Masjid Sulthoni Wotgaleh setiap malam Sabtu Kliwon.
“Kalau kegiatan rutin biasanya diikuti sekitar seratus jamaah. Saat harlah jumlahnya meningkat menjadi sekitar enam ratus orang karena banyak jamaah datang dari luar daerah,” ujar Anhar.
Pada malam puncak peringatan harlah, panitia bahkan menyiapkan sekitar 1.000 porsi konsumsi untuk melayani jamaah yang diperkirakan terus berdatangan. Sementara sehari sebelumnya, panitia membagikan 350 paket sembako murah kepada masyarakat. Jumlah tersebut bahkan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan karena tingginya antusiasme warga.
Selain pengajian akbar, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Tahlil Hadiningrat, doa bersama, santunan anak yatim, pembagian bantuan kebutuhan pokok, layanan kesehatan, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Memperkuat Persaudaraan Dua Negara
Dalam pernyataan resminya, SKJK Malaysia menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar peringatan hari lahir majelis, tetapi menjadi wadah memperkuat hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia melalui kecintaan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, para auliya, serta warisan dakwah Islam Nusantara.
Melalui kegiatan ini, kedua lembaga berharap lahir kerja sama yang lebih luas di bidang pendidikan, dakwah, kebajikan, pembangunan generasi muda, hingga pelestarian warisan peradaban Islam Nusantara.
SKJK Malaysia juga memperkenalkan konsep pembinaan karakter melalui Modul Tiga Kota Suci yang terinspirasi dari Makkah, Madinah, dan Baitulmaqdis. Konsep tersebut dinilai selaras dengan semangat Majelis Dzikir Manaqib Bolo Jiwo dalam membentuk pribadi yang bertauhid, berakhlak mulia, memiliki kecintaan kepada sesama, serta berkontribusi bagi terciptanya perdamaian di kawasan.
Bagi Anhar, seluruh kegiatan yang dilakukan selama delapan tahun terakhir memiliki tujuan sederhana, yakni menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap keberadaan majelis ini bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Tidak hanya melalui pengajian, tetapi juga kegiatan sosial dan pelestarian budaya. Semoga Masjid Sulthoni Wotgaleh terus menjadi tempat masyarakat belajar agama, menjaga tradisi, sekaligus mempererat persaudaraan,” pungkasnya.








