3.000 Santri Ikuti Ta’aruf Akbar MBS Yogyakarta, Tampilkan Budaya Nusantara hingga Prestasi Pesantren

0

Sleman– Ribuan santri Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta memadati kompleks pesantren dalam gelaran Ta’aruf Akbar 2026, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan yang menjadi penutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tersebut berlangsung semarak dengan parade budaya, penampilan seni daerah, hingga pengenalan berbagai potensi unggulan yang dimiliki pesantren.

Tak hanya menjadi ajang penyambutan santri baru, Ta’aruf Akbar juga menjadi wadah memperkenalkan keberagaman latar belakang para santri yang berasal dari hampir seluruh penjuru Indonesia, bahkan mancanegara.

Pimpinan PPM Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta, Ustadz Muhammad Fauzan Yakhsya, S.Hum., mengatakan Ta’aruf Akbar merupakan agenda rutin tahunan yang menjadi bagian penting dalam proses adaptasi santri baru di lingkungan pesantren.

“Ta’aruf Akbar ini merupakan penutup dari rangkaian Fortasi atau MPLS di SMP Muhammadiyah Boarding School dan SMA Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta. Melalui kegiatan ini kami memperkenalkan potensi-potensi yang dimiliki pondok kepada para santri maupun masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, para santri menampilkan beragam kesenian dan budaya dari daerah asal masing-masing. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, hingga daerah-daerah di Pulau Jawa.

Keberagaman itu menjadi cerminan luasnya jangkauan MBS Yogyakarta yang kini menjadi salah satu pesantren modern terbesar di Indonesia.

Menurut Fauzan, saat ini MBS Yogyakarta memiliki sekitar 2.890 santri atau hampir mencapai 3.000 orang. Santri tersebut berasal dari berbagai jenjang pendidikan yang berada di bawah naungan MBS, mulai dari SD Muhammadiyah MBS, SMP/MTs Muhammadiyah Boarding School, SMA Muhammadiyah Boarding School, hingga MA Ar Fachruddin.

Tidak hanya menerima santri dari berbagai provinsi di Indonesia, MBS juga menjadi tujuan pendidikan bagi pelajar luar negeri. Tahun ini tercatat terdapat tiga santri asal Malaysia, terdiri atas dua santri putri dan satu santri putra.

“Santri kami berasal dari berbagai daerah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, bahkan ada juga dari luar negeri yaitu Malaysia,” katanya.

Selain memperkenalkan keberagaman santri, Ta’aruf Akbar juga dimanfaatkan untuk mengenalkan berbagai unit usaha dan fasilitas pendidikan yang dimiliki pesantren kepada masyarakat sekitar.

Fauzan menjelaskan, MBS Yogyakarta mengusung konsep pendidikan yang memadukan secara seimbang ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, model pendidikan tersebut telah terbukti mampu melahirkan lulusan yang berprestasi dan diterima di berbagai perguruan tinggi bergengsi.

“Lulusan MBS banyak diterima di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Selain itu juga melanjutkan studi ke luar negeri seperti Mesir, Madinah, Maroko, Sudan, Yaman, Turki, dan negara lainnya,” jelasnya.

Sebagai pesantren berbasis boarding school, pelaksanaan MPLS di MBS juga memiliki konsep yang berbeda dibanding sekolah umum. Sebab para santri tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga harus beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan pesantren selama 24 jam.

Karena itu, seluruh rangkaian pengenalan lingkungan dirancang agar para santri dapat mengenal budaya pesantren sekaligus merasa nyaman tinggal di asrama.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia juga melakukan perubahan konsep parade Ta’aruf Akbar dibanding tahun sebelumnya. Jika sebelumnya peserta pawai mengelilingi kawasan luar pesantren, kali ini seluruh rangkaian parade dipusatkan di dalam arena utama.

Dengan konsep tersebut, seluruh santri dapat menyaksikan setiap penampilan kontingen daerah secara bergantian tanpa harus kehilangan momen ketika mengikuti pawai.

“Tahun ini sistem pawainya kami ubah. Kalau sebelumnya peserta keluar dari gerbang dan berputar di luar, sekarang seluruh pawai tetap berada di dalam arena sehingga semua santri bisa menikmati seluruh penampilan dari setiap daerah,” ungkapnya.

Selain pendidikan akademik, MBS Yogyakarta juga mewajibkan seluruh santri mengikuti tiga kegiatan ekstrakurikuler utama, yakni Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Hizbul Wathan, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Ketiga kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, serta keterampilan para santri.

Fauzan menyebut, berbagai ekstrakurikuler tersebut juga telah menorehkan banyak prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui Tapak Suci, MBS berhasil melahirkan sejumlah atlet pencak silat yang mampu berprestasi hingga tingkat nasional. Sementara Hizbul Wathan beberapa kali mengikuti kejuaraan internasional dan berhasil meraih penghargaan.

Ia berharap seluruh rangkaian Ta’aruf Akbar dapat menjadi awal yang baik bagi para santri baru untuk beradaptasi dengan kehidupan pesantren sekaligus mengenal budaya, tradisi, dan berbagai potensi yang dimiliki MBS Yogyakarta.

“Dengan mengenal lingkungan pesantren sejak awal, kami berharap para santri semakin nyaman, betah, dan mampu mencapai tujuan mereka belajar di Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here