Kirab Panji Asmoro Bangun Jadi Cara Warga Dukuh Merawat Cerita Asal-usul Morobangun

0

Sleman – Kisah Panji Asmoro Bangun menjadi bagian dari cerita yang diwariskan masyarakat Dusun Dukuh, Kelurahan Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Cerita tersebut hingga kini masih dirawat warga melalui tradisi merti dusun dan Kirab Budaya Panji Asmoro Bangun.

Ratusan warga mengikuti kirab yang digelar Minggu (20/6/2025). Mereka berjalan kaki mengelilingi kampung sejauh sekitar 3 kilometer dengan mengenakan beragam pakaian tradisional Jawa.

Kirab diikuti warga dari enam wilayah RW. Setiap kelompok membawa gunungan berisi hasil bumi dan berbagai uborampe. Sepanjang perjalanan, warga juga menampilkan beragam kreasi serta kesenian tradisional yang berkembang di wilayah setempat.

Nama Panji Asmoro Bangun diangkat dalam tradisi tersebut karena berkaitan dengan cerita sejarah yang berkembang di masyarakat, khususnya mengenai asal-usul Kampung Morobangun.

Lurah Madurejo, Sumadi mengatakan, berdasarkan cerita yang berkembang secara turun-temurun, Panji Asmoro Bangun pernah singgah di wilayah Morobangun.

Di tempat tersebut, Panji Asmoro Bangun disebut menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat. Kisah itu kemudian dipercaya menjadi bagian dari awal mula terbentuknya Kampung Morobangun.

“Salah satu petilasannya yang masih tersisa adalah masjid. Selain itu juga ada peninggalan berupa batu berbentuk bulat lonjong menyerupai lumpang, yang konon digunakan sebagai tempat minum kuda,” ujar Sumadi.

Cerita tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas masyarakat Morobangun. Warga mempertahankannya melalui tradisi budaya yang digelar secara turun-temurun.

Merti dusun sekaligus ungkapan syukur

Selain mengangkat cerita Panji Asmoro Bangun, kirab juga menjadi bagian dari upacara adat merti dusun. Tradisi ini menjadi ungkapan syukur warga atas hasil panen dan hasil bumi yang diperoleh selama satu tahun terakhir.

Tokoh masyarakat Dusun Dukuh, Rum Jalari mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antarwarga.

“Intinya ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat pada Tuhan YME atas hasil panen maupun hasil bumi yang ada di wilayah kami. Kegiatan semacam ini juga digelar untuk memupuk rasa kekeluargaan, persatuan dan guyup antar seluruh warga. Termasuk juga menggerakkan perekonomian sekitar,” ujar Rum.

Setelah menyelesaikan kirab, warga berkumpul di lapangan dusun untuk mengikuti doa bersama. Rangkaian tradisi kemudian dilanjutkan dengan kenduri atau makan bersama dan ritual rayahan gunungan.

Suasana semakin meriah dengan berbagai pertunjukan kesenian. Masing-masing wilayah menampilkan kesenian tradisional, mulai dari tari-tarian hingga jathilan.

Enam RT ikut menjaga tradisi

Pedukuhan Dukuh berada di sisi timur Kabupaten Sleman. Wilayah tersebut terdiri atas enam RT dengan sejumlah kampung, yakni Morobangun, Dukuh, Pucangan, Patran, dan Sinobange.

Keterlibatan warga dari berbagai wilayah membuat merti dusun sekaligus kirab menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dan menjaga kekompakan.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah sekaligus Kepala BKPP Kabupaten Sleman, Wildan Solichin mengatakan tradisi budaya seperti merti dusun memiliki nilai penting bagi kehidupan sosial masyarakat.

“Selain untuk menampilkan potensi yang ada, kegiatan tradisi budaya seperti ini juga sangat bagus untuk merekatkan hubungan sosial kemasyarakatan. Jadi sangat baik untuk terus dilestarikan,” kata Wildan.

Menurutnya, kekompakan dan kerukunan warga dapat menjadi modal untuk mengembangkan berbagai potensi wilayah, termasuk kebudayaan dan pariwisata.

Dengan kirab, kenduri, kesenian, dan cerita Panji Asmoro Bangun yang terus diwariskan, masyarakat Dukuh tidak hanya merayakan hasil bumi, tetapi juga menjaga cerita yang menjadi bagian dari identitas kampung mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here