
MAGELANG – Program ketahanan pangan berbasis dana desa mulai dikembangkan Pemerintah Desa Jerukagung, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, melalui BUMDes Agung Sejahtera Farm.
Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah melon premium jenis Intanon dengan sistem hidroponik. Tanaman tersebut kini memasuki masa panen perdana setelah melalui proses budidaya sekitar 70 hari.
Panen perdana melon hidroponik ini dilakukan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Srumbung dan Pemerintah Desa Jerukagung.
Pengelola BUMDes Agung Sejahtera Farm, Haryo Sukoco, mengatakan pemilihan melon dilakukan untuk mempercepat siklus produksi sekaligus mendukung program ketahanan pangan pemerintah yang menggunakan dana desa.
“Usia maksimal 70 hari. Jadi siklus perputarannya itu lebih cepat. Kita memilih ini karena program ketahanan pangan dari pemerintah di 2026 menggunakan dana desa,” kata Haryo.
Menurut dia, program ketahanan pangan tersebut merupakan kebijakan pemerintah pusat yang diteruskan hingga tingkat desa. Pengembangannya mencakup sektor pertanian, perikanan dan peternakan.
Desa Jerukagung memilih melon karena telah memiliki sumber daya dan pengalaman membudidayakan komoditas tersebut.
Dibagi Dua Lahan Agar Panen Berkelanjutan
Budidaya melon dilakukan di lahan sekitar 490 meter persegi. Lahan tersebut dibagi menjadi dua bagian dengan luasan sekitar 225 meter persegi untuk masing-masing area.
Pembagian lahan dilakukan agar tanaman memiliki usia berbeda sehingga panen dapat dilakukan secara bergantian.

Tanaman di sisi barat telah berusia sekitar 70 hari dan siap dipanen. Sementara tanaman di sisi timur masih berusia sekitar 30–40 hari.
Dengan pola tersebut, pengelola berharap panen tidak hanya berlangsung sekali, tetapi dapat dilakukan secara berkala.
Di lahan tersebut terdapat sekitar 490 tanaman dengan jarak tanam sekitar 45 x 40 sentimeter. Dari jumlah tersebut, pengelola memperkirakan sekitar 10 persen tanaman tidak menghasilkan buah secara optimal.
Dengan demikian, sekitar 450 buah diproyeksikan dapat dipanen dalam satu siklus.
Kejar Rasa, Bukan Sekadar Ukuran
Melon yang dikembangkan diarahkan untuk menyasar pasar premium. Ukuran buah dipertahankan sekitar 800 gram hingga 1 kilogram untuk produksi awal.
Haryo mengatakan kualitas rasa menjadi salah satu fokus utama budidaya.
“Yang dikejar adalah rasa dan teksturnya lebih lembut daripada melon konvensional karena perawatan menggunakan hidroponik,” ujarnya.
Sistem hidroponik memungkinkan pemberian nutrisi dilakukan secara terukur. Dengan pasokan nutrisi yang tersedia, akar tanaman tidak perlu bekerja terlalu keras untuk mencari sumber makanan.
Dalam satu tanaman, pengelola mengoptimalkan satu buah melon. Langkah tersebut dilakukan agar nutrisi dapat lebih terfokus pada buah sehingga rasa dan bobotnya tetap terjaga.

“Untuk market premium atau supermarket yang dikejar adalah rasa. Terus yang kedua adalah bobot,” katanya.
Untuk pasar lokal, melon tersebut dipasarkan sekitar Rp25.000 per kilogram. Sementara apabila masuk supermarket, harganya diperkirakan berada pada kisaran Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram.
Dipasarkan dengan Konsep Petik Sendiri
BUMDes Agung Sejahtera Farm juga menyiapkan konsep penjualan langsung kepada konsumen.
Pengunjung nantinya dapat datang ke kebun, melihat proses budidaya melon hidroponik, memilih buah, kemudian memetik sendiri. Setelah itu, melon ditimbang dan konsumen membayar sesuai berat buah yang dipilih.
Konsep tersebut sekaligus diarahkan menjadi wisata edukasi pertanian.
Konsumen tidak hanya mendapatkan melon, tetapi juga pengalaman berada di kebun hidroponik dan dapat mengabadikan foto di antara tanaman melon.
Panen Perdana Diperkirakan 400 Kilogram
Haryo mengatakan hasil panen perdana belum ditargetkan maksimal karena BUMDes masih dalam tahap belajar dan melakukan evaluasi terhadap sistem budidaya.
Produksi awal diperkirakan sekitar 400 kilogram.
“Ini baru perdana, kita belum bisa secara maksimal. Kami juga masih berproses dan baru belajar. Mungkin nanti sekitar 400 kilogram,” katanya.

Setelah panen perdana, pengelola berencana melakukan renovasi lahan dan memperbaiki sistem irigasi agar budidaya pada siklus berikutnya dapat lebih optimal.
Jamur Jadi Salah Satu Kendala
Budidaya melon hidroponik tetap memiliki tantangan. Salah satunya serangan jamur.
Penggunaan insect net dapat membantu mengurangi masuknya serangga, tetapi tidak dapat sepenuhnya mencegah serangan jamur.
Karena itu, tanaman harus dipantau secara rutin. Pengelola melakukan perawatan intensif, termasuk penyemprotan secara berkala serta pengecekan kondisi tanaman.
Jika ditemukan gejala serangan hama maupun penyakit, penanganan dilakukan sedini mungkin agar tidak menyebar.
Dana Desa untuk Ketahanan Pangan
Kepala Desa Jeruk Agung, Tri Wartanto, mengatakan budidaya melon tersebut merupakan bagian dari pemanfaatan dana desa untuk program ketahanan pangan.
Sebagian dana desa dialokasikan untuk kegiatan yang mendukung sektor pertanian, dengan BUMDes menjadi salah satu penggeraknya.
“Lahan ini sekitar 490 meter. Kita buat dua bagian. Separuh sudah bisa melihat sendiri hasilnya, siap panen, dan sebelah timur usianya baru kisaran 30 hari. Jadi nanti selang 30 hari sudah panen lagi,” ujar Tri.

Menurutnya, pengembangan melon menjadi tahap awal. Ke depan, desa berencana mengembangkan komoditas lain, salah satunya bawang merah.
Masyarakat juga akan dilibatkan agar program ketahanan pangan tidak hanya berjalan di lingkungan BUMDes, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi warga.
“Kita berharap nanti kemajuan BUMDes di Desa Jeruk Agung semakin berkembang dan masyarakat juga bisa ikut terlibat,” katanya.
Disiapkan untuk Mendukung MBG
Pemerintah Desa Jeruk Agung juga melihat peluang pengembangan hasil pertanian untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jika produksi semakin berkembang, hasil pertanian seperti buah dan komoditas lainnya diharapkan dapat masuk dalam rantai pasok MBG melalui kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kalau buah bisa untuk MBG, kalau ikan nanti juga bisa untuk lauk MBG. Itu yang kami harapkan,” ujar Tri.
Dengan pengembangan bertahap tersebut, Desa Jeruk Agung menargetkan program ketahanan pangan tidak berhenti pada panen perdana melon. BUMDes Agung Sejahtera Farm diharapkan dapat berkembang menjadi pusat kegiatan pertanian yang melibatkan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi desa.








