
YOGYAKARTA — Sebanyak 1.039 mahasiswa baru Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada 19–21 Agustus 2026.
Berbeda dari sekadar kegiatan penyambutan mahasiswa baru, PBAK FITK tahun ini dirancang sebagai ruang untuk menanamkan kebiasaan baik sejak awal mahasiswa memasuki kehidupan kampus.
Lima praktik baik menjadi perhatian utama dalam kegiatan tersebut, yakni pelaksanaan sholat duha bersama, membiasakan sholat tepat waktu, penggunaan tumbler untuk mengurangi sampah plastik, pengelolaan sampah secara mandiri, serta pelayanan dan pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd., mengatakan pembentukan karakter mahasiswa tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran akademik. Kepedulian terhadap lingkungan dan penghargaan terhadap keberagaman juga perlu dibangun sejak mahasiswa pertama kali mengenal kampus.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya paham secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan sejak awal masuk kampus. Pengelolaan sampah mandiri melalui student center dan lembaga kemahasiswaan yang ada di FITK ini adalah bagian dari upaya kami menghadirkan echoteologi dalam praktik keseharian, sekaligus membentuk mahasiswa FITK yang unggul, beretika, kritis, dan berdampak,” ujar Prof. Sigit.

Kelola 394 Kilogram Sampah
Kepedulian lingkungan menjadi salah satu praktik yang terlihat selama tiga hari PBAK. Sebanyak 1.039 mahasiswa baru diwajibkan membawa tumbler untuk mengurangi penggunaan botol dan kemasan plastik sekali pakai.
FITK juga menerapkan sistem pengelolaan sampah secara mandiri dengan melibatkan Badan Otonomi Mahasiswa (BOM) dan Study Center Sinbion FITK. Mahasiswa dilibatkan dalam pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.
Selama tiga hari, tercatat 297 kilogram sampah organik berhasil dipilah. Selain itu terdapat 25 kilogram sampah plastik serta 72 kilogram sampah kardus dan kertas. Total sampah yang dikelola mencapai 394 kilogram.
Sampah organik tersebut kemudian dimanfaatkan melalui dua jalur. Sebagian digunakan untuk biopori di lingkungan kampus, sedangkan sebagian lainnya disalurkan ke peternakan maggot di wilayah DIY.
Pengelolaan ini sekaligus menjadi praktik sustainability action yang memperkenalkan kepada mahasiswa bahwa sampah dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali, bukan sekadar dibuang.

Nilai Keagamaan dan Kepedulian Lingkungan
Praktik tersebut juga dikaitkan dengan konsep ecotheology atau ekoteologi yang menghubungkan nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Melalui kebiasaan membawa tumbler, memilah sampah, mengelola biopori hingga memanfaatkan sampah organik untuk maggot, mahasiswa diajak melihat kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Selain lingkungan, FITK juga memberi perhatian pada aspek inklusivitas. Pelayanan dan pendampingan mahasiswa disabilitas disiapkan selama PBAK berlangsung.
Fasilitas yang disediakan antara lain juru bahasa isyarat, materi digital yang ramah screen reader, ramp portabel, ruang tenang atau quiet room, serta mahasiswa pendamping (student buddy).
Pendampingan tersebut diperkuat oleh relawan yang disiapkan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UIN Sunan Kalijaga.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FITK, Dr. Winarti, M.Pd.Si., mengatakan layanan inklusif tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan seluruh mahasiswa baru dapat mengikuti kegiatan kampus secara aman dan nyaman.
Dengan rangkaian tersebut, PBAK FITK tidak hanya menjadi pintu masuk mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus. Kegiatan ini sekaligus menjadi tahap awal pembentukan budaya akademik yang religius, peduli lingkungan, serta menghargai keberagaman.








