
Di lereng perbukitan Menoreh Kulon Progo yang sejuk, Desa Wisata Nglinggo, Samigaluh menorehkan cerita baru. Setelah sempat “mati suri” akibat pandemi COVID-19, desa yang sudah 21 tahun membangun identitas sebagai destinasi wisata alam dan budaya ini kini melangkah ke era digital.
Bersama badan amil zakat dan nashir wakaf Baitulmaal Muamalat (BMM) DIY, warga dan pengelola desa menggelar Pelatihan Digitalisasi dan Pemasaran Produk Wisata, sebagai upaya memperkuat daya saing dan menyatukan potensi desa dalam wajah baru pariwisata berbasis edukasi.
Pelatihan ini melibatkan pengelola desa wisata, pelaku UMKM lokal, tokoh masyarakat, hingga generasi muda. Fokusnya bukan hanya mengenalkan internet atau media sosial, tetapi juga membangun narasi, menciptakan konten yang mengangkat keunikan desa, dan memasarkan produk secara luas.

“Digitalisasi itu bukan hanya soal teknologi, tapi bagaimana kita bercerita dan mengedukasi melalui media baru. Produk seperti gula aren, susu kambing, hingga teh dan kopi bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai-nilai lokal,” ujar Muhammad Haidar Hilmi, perwakilan dari BMM DIY.
Menurut Haidar, desa wisata seperti Nglinggo tidak hanya punya potensi dari segi keindahan alam, tapi juga kekuatan dari aktivitas keseharian warganya yang autentik. Inilah yang akan dikemas sebagai konten edukatif—baik dalam bentuk video, narasi, maupun pengalaman langsung yang dapat dikembangkan menjadi paket wisata.

Dari Ladang ke Layar Digital
Pengelola desa wisata Nglinggo, Anton Nugroho menegaskan bahwa selama ini, wisata di Nglinggo telah menyatu dengan kehidupan warga. Mulai dari pengolahan gula aren, pemerahan susu kambing, hingga pengolahan teh dan kopi secara tradisional, semua adalah bagian dari keseharian yang kini coba dikemas lebih menarik bagi wisatawan.

“Kami ingin wisatawan tidak hanya melihat pemandangan, tapi juga belajar dan terlibat langsung dalam proses. Itulah esensi edukasi yang kami bawa. Dengan digitalisasi, kami berharap cerita-cerita ini bisa menjangkau lebih banyak orang,” katanya.
Anton menyebut 99% warga Nglinggo adalah petani dan peternak. Kegiatan pertanian dan peternakan menjadi satu ekosistem yang berkelanjutan. Semua itu nantinya akan dikemas dalam sebuah konsep wisata edukasi. Sehingga potensi Nglinggo bisa dilihat bukan hanya sekedar produk fisik, tapi juga memiliki cerita di baliknya.
“Kita tidak hanya menjual gula atau susu. Kita bawa cerita: siapa yang membuatnya, bagaimana prosesnya, kenapa itu bernilai. Cerita itu penting dalam dunia digital,” jelasnya.

Anton menyebut konten digital yang autentik dan memiliki unsur edukasi lebih mudah menjangkau pasar wisata modern yang kini mencari pengalaman, bukan sekadar objek.
Membangun Harapan Baru
Desa Wisata Nglinggo telah berbenah sejak pandemi. Objek-objek seperti bukit Ngisis, Puncak Sembilan, Kebun teh, hingga spot-spot wisata alam lainnya direnovasi. Kini, jumlah kunjungan wisatawan mulai meningkat, terlebih setelah jalan utama menuju desa kembali dibuka setelah proyek pelebaran selesai.

Dukuh Nglingggo Barat, Teguh Kumoro, menyebut berdasarkan data internal desa, jumlah kunjungan wisatawan ke Nginggo rata-rata mencapai 6.000 hingga 7.000 orang per bulan. “Itu angka yang cukup baik untuk desa. Tapi kami yakin, dengan pelatihan digital ini, angka itu bisa naik dan lebih merata manfaatnya bagi warga,” ungkap Teguh.
Tak hanya ingin dikenal sebagai destinasi indah, Nglinggo kini ingin menjadi desa wisata edukatif digital yang memadukan alam, budaya, dan teknologi. “Kami ingin wisatawan pulang membawa ilmu, membawa cerita, dan meninggalkan dampak ekonomi bagi warga kami,” pungkasnya.

Program pelatihan digitalisasi ini baru awal. Namun dari semangat kolaborasi antara warga dan BMM, tampak jelas bahwa desa seperti Nglinggo punya masa depan cerah—bukan hanya sebagai tempat berwisata, tapi juga tempat belajar dan tumbuh bersama.








