
Yogyakarta — Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta kembali menyelenggarakan program Amal Bakti Santri (ABAS) ke-14. Kegiatan tahunan ini diikuti oleh 372 santri kelas 10 putra dan putri yang diterjunkan langsung ke tengah masyarakat.
Pimpinan MBS Yogyakarta, Fakihudin, mengatakan ABAS merupakan program unggulan pesantren yang dirancang untuk membekali santri dengan pengalaman dakwah dan pengabdian sosial secara langsung. Selama kegiatan berlangsung, santri tinggal di rumah warga dan mengikuti aktivitas keseharian tuan rumah.
“Santri mengikuti seluruh kegiatan masyarakat, mulai dari bertani, beternak, berdagang, hingga aktivitas lainnya. Polanya mirip KKN, sehingga mereka benar-benar belajar hidup bersama masyarakat,” ujar Fakihudin.

Selain terlibat dalam kegiatan warga, para santri juga melaksanakan berbagai program sosial seperti bakti sosial, pemeriksaan kesehatan, Tabligh Akbar, serta lomba-lomba TPA bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Mereka juga mengamalkan ilmu yang diperoleh di pesantren dengan mengajar di TPA, menjadi imam salat, dan menyampaikan kultum di masjid.
Menurut Fakihudin, tujuan utama ABAS adalah menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian sosial santri. “Ketika mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat, santri menyadari bahwa masih banyak warga yang membutuhkan bantuan. Harapannya, santri lebih bersyukur dan siap berkiprah di masyarakat setelah lulus dari MBS,” katanya.

Sekretaris Camat Srumbung, Emiliani, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ABAS yang berlangsung di wilayahnya. Ia menilai program tersebut memberi dampak positif bagi masyarakat desa.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat, tidak hanya bagi santri tetapi juga bagi warga. ABAS ikut mempromosikan berbagai potensi positif daerah, seperti UMKM, pariwisata, dan budaya, khususnya di Desa Srumbung dan Sudimoro,” ujarnya.
Emiliani berharap kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan dan diperluas ke desa-desa lain agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Sementara itu, salah satu santri kelas 10 peserta ABAS mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman berharga. Ia bersama rekan-rekannya membantu berbagai aktivitas warga, mulai dari pekerjaan rumah tangga hingga perawatan hewan ternak.
“Kami membantu kegiatan warga, membagikan paket sembako dan paket pelajar, mengadakan lomba-lomba, dan malam ini puncaknya ada Tabligh Akbar. Tinggal di pedesaan itu sangat menyenangkan dan mengajarkan kami cara bersosialisasi dengan baik,” tuturnya.
Program ABAS ke-14 ini dilaksanakan pada 21–29, dengan santri ditempatkan secara berkelompok di rumah-rumah warga. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat karakter santri sebagai kader dakwah Muhammadiyah yang siap terjun dan berkontribusi di tengah masyarakat.









