
Yogyakarta – MPI Fair 2025, event tahunan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, resmi ditutup pada Rabu (10/12/2025). Penutupan ini menjadi puncak dari 21 rangkaian kegiatan yang telah digelar mahasiswa selama satu semester.
Ketua Program Studi MPI, Siti Nur Hidayah, menjelaskan bahwa MPI Fair telah menjadi agenda rutin yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-8. Seluruh kegiatan dirancang dan dilaksanakan oleh mahasiswa sebagai praktik langsung mata kuliah Event Management.

“Acara ini memang menjadi ruang belajar besar bagi mahasiswa. Mereka diberi keleluasaan penuh untuk mendesain, mengelola, hingga menjalankan seluruh event. Tujuannya bukan hanya belajar manajemen kegiatan, tetapi juga leadership, kerja sama, dan kemampuan menjalin kolaborasi dengan banyak pihak,” jelasnya.
Sejak awal semester, mulai September 2025, mahasiswa telah bekerja dalam kelompok besar dan kecil untuk menyusun konsep serta menjalankan berbagai aktivitas. Rangkaian MPI Fair 2025 meliputi lomba futsal, lomba karya tulis ilmiah, lomba business plan, donor darah, program kolaborasi di Pasar Lawasan Nusantara Gede, kegiatan pendampingan lansia di beberapa kabupaten, hingga proyek pembuatan video profil program studi.
Dalam hal pendanaan, mahasiswa juga dilatih mandiri. Prodi tidak memberikan dana tunai, namun mendukung melalui sistem proyek berbayar. Mahasiswa harus menghitung biaya produksi, mencari keuntungan, dan mengelola pemasukan untuk membiayai seluruh acara.

Ketua Panitia MPI Fair 2025, Farid Apriansyah, menyampaikan bahwa Closing Ceremony dan Seminar Nasional menjadi penutup rangkaian kegiatan. Tahun ini, panitia menghadirkan Sadam Permana, influencer yang dikenal aktif mengangkat isu-isu pendidikan di media sosial.
“Kami memilih Sadam Permana karena kontennya relevan dengan pendidikan dan memiliki banyak penggemar di Jogja. Antusias peserta luar biasa, meskipun acaranya digelar hari Rabu. Pendaftar lebih dari 200 orang,” ujar Farid.
Menurut Farid, panitia berharap seminar nasional ini bisa memberi inspirasi terkait peran pemuda, khususnya mahasiswa, dalam menghadapi perubahan pendidikan di era futuristik.
Peserta acara juga mendapatkan pengalaman bermakna. Najwa, salah satu mahasiswa, menilai seminar tersebut mengingatkan pentingnya berpikir kritis di tengah derasnya informasi.
“Mahasiswa harus bisa menyeleksi sumber informasi dan tidak menelan mentah-mentah berita yang beredar. Kita harus mencari bukti dan sumber yang valid,” ungkapnya.

Mahasiswa lainnya, Eka Putri Ayundasari, menyebut bahwa diskusi mengenai kecerdasan buatan (AI) menjadi wawasan baru yang sangat relevan bagi calon pendidik.
“AI bisa sangat membantu, tapi juga bisa menjerumuskan kalau disalahgunakan. Kita harus bijak memanfaatkannya, terutama untuk kebutuhan pembelajaran di sekolah nanti,” jelasnya.
Dengan berakhirnya Closing Ceremony, MPI Fair 2025 dinyatakan selesai. Melalui proyek besar ini, mahasiswa MPI tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis dalam manajemen acara, tetapi juga pembelajaran nyata tentang kepemimpinan, kerja sama, inovasi, dan adaptasi teknologi.








