
Sleman – Ratusan peternak ayam penerima program Ayam Merah Putih di DIY mengikuti kegiatan pelatihan dan bimbingan teknis pengelolaan ayam petelur Rabu (06/05/2026).
Dibuka langsung Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, Kegiatan ini digelar Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta, guna meningkatkan kemampuan serta pengetahuan para peternak dalam menjalankan usaha mereka.
Bertempat di kompleks peternakan ayam petelur bebas sangkar Fakultas Peternakan UGM, Kalijeruk, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, kegiatan diisi pemaparan materi dari sejumlah ahli termasuk Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof Ali Agus.
Kepala Balai Besar Veteriner (BBV) Wates, Yogyakarta, Nur Saptahidhayat, mengatakan total ada sebanyak 43 kelompok penerima program Ayam Merah Putih di DIY yang mengikuti kegiatan pelatihan ini.
Yakni bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peternak dalam mengelola usaha ayam petelur sekaligus menjaga keberlanjutan program Ayam Merah Putih yang merupakan program ketahanan pangan berbasis desa.
“Hingga saat ini sekitar 80 persen ayam yang kita salurkan kepada para peternak telah bertelur sesuai rencana. Sehingga diharapkan dengan adanya bimbingan teknis ini pproduksi telur dapat semakin meningkat dan dapat mencegah penurunan populasi ayam,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau akrab disapa Titiek Soeharto, mengaku akan terus mendorong berbagai program pemerintah termasuk Ayam Merah Putih dapat terus berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Titiek, Program Ayam Merah Putih ini menjadi peluang untuk membangun kemandirian pangan Indonesia dari desa. Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hasil telur juga dapat dijual guna menambah pemasukan rumah tangga.
Karena itu kemampuan peternak dalam mengelola dan menjalankan usaha ini menjadi sangat penting agar program dapat terus berjalan dan berkembang dengan baik.
Termasuk juga dalam mendukung berbagai program pemerintah lainnya seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Tidak perlu bingung mencari pasar sendiri untuk penyerapan atau pengembangan usaha. Karena telur yang dihasilkan bisa disuplai untuk pemenuhan kebutuhan MBG atau dipasarkan lewat KDMP,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu Titiek juga menekankan pentingnya pelatihan bagi para peternak agar mereka dapat memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengelola usaha ayam petelur.
“Gunakan kesempatan ini untuk belajar dan menambah pengetahuan mengelola ayam petelur dengan sebaik-baiknya. Insyaallah akan berhasil dan berkembang,” katanya.
Ia mengingatkan sejumlah hal penting dalam usaha peternakan ayam petelur, mulai dari pengelolaan pakan yang tepat, kebersihan kandang, menjaga kesehatan ayam, hingga pengelolaan hasil produksi demi keberlanjutan usaha.
“Program ini harus dijaga, dijalankan, dan dikembangkan bersama karena manfaatnya sangat besar baik untuk ketahanan pangan keluarga maupun desa,” tambahnya.
Sementara itu Besar Fakultas Peternakan UGM sekaligus pencetus telur ayam bahagia, Prof Ali Agus, mengatakan dalam pelatihan ini nantinya peserta akan diberikan berbagai materi terkait teknis pemeliharaan ayam petelur.
Mulai dari pengelolaan kebersihan kandang, biosecurity, pakan, hingga pengelolaan telur agar program dapat berjalan optimal. Termasuk juga mengetahui dan mengantisipasi berbagai macam penyakit yang berpotensi menurunkan hasil produksi.
“Risiko paling tinggi adalah kekurangan pakan dan penyakit. Karena itu peternak harus tahu dan paham cara mengatasinya, termasuk langkah pencegahan sseperti memberikan obat jika ayam sakit sampai dengan memberikan vaksinasi secara rutin ,” ujarnya.







