Titiek Soeharto Dukung Inovasi Penanaman Bawang Bombai di Lahan Pasir Bantul dengan Teknologi Smart Farming

0

Bantul – Sejumlah petani lahan pasir di kawasan pesisir pantai selatan Bantul mencoba membudidayakan bawang bombai untuk pertama kalinya.

Penanaman bawang bombai ini dilakukan dengan teknologi smart farming yang memanfaatkan perangkat pertanian canggih seperti sensor kelembapan, tingkat keasaman atau pH tanah, hingga kadar nutrisi dalam tanah.

Bibit bawang bombai varietas Trovi yang diimpor langsung dari Belanda ini dipilih karena dinilai sangat adaptif sehingga cocok ditanam di dataran rendah termasuk kawasan pesisir.

Ketua Kelompok Tani Pasir Makmur, Srigading, Sanden, Bantul, Sumarna, mengatakan pada tahap uji coba ini pihaknya menanam sebanyak 10.000 benih dari biji di lahan seluas 1.000 meter persegi.

“Kita yakin uji coba ini akan berhasil karena kita menerapkan sistem smart farming. Mulai dari penggunaan sistem pengairan kabut yang dapat dikendalikan dengan telepon seluler, hingga sensor kelembapan, tingkat keasaman atau pH tanah, sampai kadar nutrisi dalam tanah yang bekerja secara otomatis,” ungkapnya Jumat (08/05/2026).

Dengan sistem ini, jika tingkat keasaman atau pH tanah naik, maka sensor akan mendeteksi dan melakukan pengendalian lewat metode solenoid valve (katup solenoid).

Sistem ini bekerja lewat metode fertigasi atau otomasi pertanian berbasis IoT (Internet of Things). Nantinya solenoid akan bertindak sebagai pintu air otomatis yang diatur oleh mikrokontroler untuk menyalurkan larutan penetral pH, seperti kapur dolomit cair atau asam humat.

“Sebelumnya sudah saya coba untuk komoditas bawang merah dan berhasil. Semoga dengan komoditas bawang bombai ini juga bisa berhasil,” katanya.

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau akrab disapa Titiek Soeharto, menyatakan dukungannya terhadap inovasi budidaya bawang bombai di lahan pasir Bantul tersebut. 

Menurutnya, jika inovasi ini berhasil akan menjadi sebuah lompatan maju untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan impor bawang bombai.

“Saya mendukung penuh inovasi penanaman bawang bombai di lahan pasir ini karena menunjukkan bahwa petani kita mampu beradaptasi dengan teknologi modern. Harapan saya, program ini bisa berhasil dan menjadi percontohan bagi daerah lain sehingga kesejahteraan petani meningkat dan kebutuhan bawang bombai nasional dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri,” ujar Titiek Soeharto.

Hingga saat ini budidaya bawang bombai sendiri masih sangat jarang dilakukan di Indonesia karena kurangnya pengetahuan tentang teknik budidaya di kalangan petani.

Hal itu membuat 95 persen konsumsi bawang bombai masih dipenuhi dari produk impor. Padahal secara geografis Indonesia memiliki beragam lahan yang cocok untuk membudidayakan bawang bombai.

Dengan potensi pasar yang masih sangat luas, Sumarna berharap bisa berhasil dalam uji coba pengembangan bawang bombai ini ke depannya.

Dari 10 ribu bibit yang ditanam, diproyeksikan bawang bombai yang dihasilkan akan mencapai 9 kuintal hingga 1,2 ton dengan masa panen 60 hari, dengan harga jual Rp20-25 ribu per kilogram.

“Saya yakin meski di lahan pasir akan berhasil. Lahan pasir cocok karena memiliki tingkat drainase yang bagus. Baik saat musim hujan maupun kemarau tidak masalah. Yang penting kita tahu SOP-nya,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here