
SLEMAN – Potensi bahan pangan lokal dinilai bisa menjadi peluang usaha baru jika diolah dengan kreativitas dan inovasi. Hal inilah yang didorong melalui program Masak Bersama Master (MASAMO) bertajuk Inovasi Kuliner Lokal untuk Usaha yang digelar Direktorat Kuliner Kementerian Ekonomi Kreatif di Omah Daren Resto, Turi, Sleman.
Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, mengatakan sektor kuliner memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi kreatif. Selain menjadi penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif, subsektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Ekonomi kreatif itu adalah salah satu mitra kami di Komisi VII. Kami bersama Kementerian Ekonomi Kreatif berusaha mengembangkan 17 subsektor ekonomi kreatif. Salah satu yang sedang kita kerjakan ini adalah kuliner,” kata Kaisar.
Menurutnya, kuliner memiliki keunggulan karena relatif mudah dikembangkan masyarakat. Usaha di bidang ini bisa dimulai dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar dan tidak selalu membutuhkan modal besar.

Melalui kegiatan MASAMO, masyarakat Sleman mendapatkan pelatihan untuk mengoptimalkan potensi makanan lokal agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Kaisar berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan keterampilan mengolah bahan pangan, tetapi berlanjut pada pendampingan pemasaran produk.
“Hasil pelatihan ini nanti akan kami koordinasikan untuk kita tindak lanjuti bersama dinas dan kementerian terkait. Setelah diberikan bekal, mungkin akan kita berikan pelatihan bagaimana memasarkan produk mereka di ruang digital,” ujarnya.
Kaisar juga menilai pengembangan kuliner lokal penting bagi Yogyakarta yang merupakan salah satu destinasi wisata. Produk makanan khas daerah diharapkan dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata sekaligus membuka kesempatan usaha bagi masyarakat.
Sementara itu, Direktur Kuliner Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Romi Astuti, menjelaskan MASAMO merupakan program peningkatan kapasitas bagi para pelaku usaha dan calon pelaku usaha kuliner.

Program ini dirancang untuk mendorong peserta menciptakan produk baru yang lebih inovatif, memiliki nilai jual tinggi, serta mampu diterima pasar.
Dalam pelatihan di Sleman, peserta diajak mengolah ubi menjadi berbagai produk makanan yang lebih modern, di antaranya butterboom dan kroket ubi.
Romi mencontohkan, ubi yang selama ini lebih sering dikonsumsi dengan cara direbus atau digoreng sederhana ternyata bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Kalau ubi biasanya sederhananya masyarakat desa itu hanya digoreng dan direbus. Nah, ini bisa menjadi olahan seperti butterboom dan kroket. Ubi yang biasanya harganya murah, dengan diolah menjadi kroket, harganya bisa lebih mahal dan lebih menarik,” jelasnya.

Menurut Romi, inovasi tersebut membuka peluang agar bahan pangan lokal bisa masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk kafe, restoran, maupun pasar makanan ringan.
Ia menilai selama ini masih banyak masyarakat yang menganggap produk kuliner modern harus menggunakan bahan atau jenis makanan dari luar negeri. Padahal, bahan pangan lokal Indonesia sangat melimpah dan bisa diolah menjadi produk yang tidak kalah menarik.
“Ketika kita bisa mengolah dengan inovasi dan kreativitas menjadi produk yang kekinian, itu akan sangat bersaing dengan produk-produk yang sudah ada,” katanya.
Romi menyebut subsektor kuliner menyumbang sekitar 41 persen terhadap PDB ekonomi kreatif. Selain itu, kuliner juga menjadi subsektor dengan kontribusi tenaga kerja terbesar.

Karena itu, pengembangan usaha kuliner dinilai berpotensi membuka lapangan kerja sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Ia berharap peserta MASAMO tidak hanya mendapatkan inspirasi membuat produk baru, tetapi juga mampu melihat potensi bahan pangan di daerah masing-masing sebagai peluang bisnis.
Dengan memanfaatkan bahan baku lokal, masyarakat bisa menciptakan nilai tambah tanpa terlalu bergantung pada pasokan dari daerah lain. Keuntungan ekonomi dari pengolahan bahan pangan tersebut pun diharapkan lebih banyak dirasakan masyarakat setempat.








