
SLEMAN – Pesantren didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang tumbuhnya kegiatan ekonomi kreatif. Potensi santri, keluarga pesantren, dan masyarakat sekitar dinilai bisa dikembangkan menjadi pelaku usaha mandiri, salah satunya melalui sektor kriya.
Hal tersebut disampaikan anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, dalam kegiatan bertema Pengembangan Sumber Daya Lokal untuk Usaha Kreatif Berbasis Kriya di Pondok Pesantren Ibnu Hadi, Polodadi, Ngentak, Prambanan, Sleman, Sabtu (07/11/2026)
Kaisar mengatakan, berdasarkan data pemerintah pusat, subsektor kriya menjadi salah satu penyumbang ekspor terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Potensi tersebut perlu terus dikembangkan, termasuk dengan melibatkan lingkungan pesantren.

“Kami berharap kegiatan pada siang hari ini bisa meningkatkan produktivitas pelaku kriya yang ada di DIY, khususnya di Kabupaten Sleman. Dari kegiatan ini mudah-mudahan lahir beberapa kelompok yang bisa menjadi pelaku-pelaku usaha di bidang kriya,” kata Kaisar.
Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar untuk ikut menggerakkan ekonomi kreatif. Selama ini, aktivitas pesantren lebih banyak dikenal melalui kegiatan pendidikan dan keagamaan. Padahal, lingkungan pesantren juga bisa menjadi tempat pengembangan keterampilan dan usaha produktif.
Ia berharap santri maupun jamaah pesantren dapat terlibat dalam berbagai kegiatan ekonomi kreatif sehingga memiliki kemandirian ekonomi.

“Kita ingin kegiatan-kegiatan ekonomi kreatif ini mulai bisa merambah dunia pesantren. Santri dan para jamaah bisa ikut terlibat dalam proses ekonomi kreatif sehingga mereka bisa mandiri. Tidak hanya belajar ilmu agama, nilai, dan moral, tetapi juga produktif melalui kegiatan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Hadi, KH Imam Syajaroh atau Gus Jaroh, menyambut positif pelatihan tersebut. Menurutnya, peningkatan pengetahuan dan keterampilan menjadi salah satu bekal penting untuk membantu masyarakat memperbaiki kondisi ekonomi.
Ia menjelaskan, peserta kegiatan kali ini merupakan para santri yang berasal dari luar lingkungan pondok dan sudah berkeluarga. Mereka diharapkan bisa mengambil ilmu dari pelatihan untuk dikembangkan menjadi kegiatan usaha.
“Ini sangat-sangat membantu dalam keilmuan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Sebuah kesuksesan masyarakat itu dengan ilmu. Alhamdulillah ada fasilitas dari negara,” kata Gus Jaroh.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Eling Priswanto, menyatakan dukungan terhadap pengembangan usaha kreatif berbasis sumber daya lokal. Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui penguatan kemitraan dan perluasan akses pasar.
Menurutnya, produk kriya dan cendera mata memiliki peluang besar untuk memperkenalkan identitas serta kekayaan budaya Yogyakarta kepada wisatawan.
Pengembangan produk kreatif diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut menjadi produk nyata dan usaha baru yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Direktur Kuliner Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Romi Astuti, menambahkan DIY memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif. Selain menjadi salah satu daerah dengan kontribusi ekspor kriya yang besar, Yogyakarta juga memiliki ekosistem kreatif yang kuat.
Menurutnya, potensi tersebut harus diikuti dengan penguatan ekosistem usaha, mulai dari proses produksi hingga pemasaran.
“Ekosistem harus terus dibangun. Tidak hanya membuat, tetapi juga harus bisa memasarkan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, pengembangan kriya diharapkan mampu membuka peluang usaha baru sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat pesantren dalam perekonomian daerah.








